October 22, 2015

Pegawai Tidak Tetap /Tenaga Kerja Lepas Penggunaan Alokasi Dana Desa dan Dana Desa

Dasar pengenaan dan pemotongan PPh Pasal 21 Jumlah penghasilan yang melebihi Rp300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah) sehari, yang berlaku bagi Pegawai Tidak Tetap atau Tenaga Kerja Lepas yang menerima upah harian, upah mingguan, upah satuan atau upah borongan, sepanjang penghasilan kumulatif yang diterima dalam 1 (satu) bulan kalender belum melebihi Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah).

Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Pegawai Tidak Tetap atau Tenaga Kerja Lepas berupa upah harian, upah mingguan, upah satuan, upah borongan, dan uang saku harian, sepanjang penghasilan tidak dibayarkan secara bulanan, tarif lapisan pertama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan diterapkan atas:
                              i.        jumlah penghasilan bruto sehari yang melebihi Rp300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah); atau
                             ii.        jumlah penghasilan bruto dikurangi PTKP yang sebenarnya, dalam hal jumlah penghasilan kumulatif dalam 1 (satu) bulan kalender telah melebihi Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah).
Dalam hal jumlah penghasilan kumulatif dalam satu bulan kalender telah melebihi Rp8.200.000,00 (delapan juta dua ratus ribu rupiah), PPh Pasal 21 dihitung dengan menerapkan tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan atas jumlah Penghasilan Kena Pajak yang disetahunkan.

Contoh pembayaran Upah Harian: Nurcahyo dengan status belum menikah pada bulan Januari 2015 bekerja sebagai buruh harian PT Cipta Mandiri Sejahtera. la bekerja selama 15 hari dan menerima upah harian sebesar Rp200.000,00.

Penghitungan PPh Pasal 21 terutang:
Upah sehari                                                                        Rp          200.000,00
Dikurangi batas upah harian tidak dilakukan
pemotongan PPh                                                                Rp         300.000,00
Penghasilan Kena Pajak sehari                                          Rp                     0,00
PPh Pasal 21 dipotong atas Upah sehari:                          Rp                     0,00

Sampai dengan hari ke-15, karena jumlah kumulatif upah yang diterima belum melebihi Rp3.000.000,00 maka tidak ada PPh Pasal 21 yang dipotong.

Pada hari ke-12 jumlah kumulatif upah yang diterima melebihi Rp3.000.000,00, maka PPh Pasal 21 terutang dihitung berdasarkan upah setelah dikurangi PTKP yang sebenarnya.
Upah s.d hari ke-11 (Rp200.000,00 x 16)                          Rp       3.200.000,00
PTKP sebenarnya:
16 x (Rp36.000.000,00/ 360)                                              Rp       1.600.000,00
Penghasilan Kena Pajak s.d hari ke-16                             Rp       1.600.000,00
PPh Pasal 21 terutang s.d hari ke-16
5% x Rp1.457.500,00                                                         Rp            80.000,00
PPh Pasal 21 yang telah dipotong s.d hari ke-15              Rp                    0,00
PPh Pasal 21 yang harus dipotong pada hari ke-16          Rp           80.000,00

Sehingga pada hari ke-16, upah bersih yang diterima Nurcahyo sebesar:
Rp200.000,00 – Rp80.000,00= Rp120.000,00

Misalkan Nurcahyo bekerja selama 17 hari, maka penghitungan PPh Pasal 21 yang harus dipotong pada hari ke - 17 adalah sebagai berikut :

Pada hari kerja ke-12, jumlah PPh Pasal 21 yang dipotong adalah:
Upah sehari                                                                        Rp          200.000,00
PTKP sehari
-  untuk WP sendiri (Rp 36.000.000,00: 360)                     Rp          100.000,00
Penghasilan Kena Pajak                                                    Rp          100.000,00

PPh Pasal 21 terutang 5% x Rp100.000,00                       Rp              5.000,00

Sehingga pada hari ke-12, Nurcahyo menerima upah bersih sebesar:
Rp200.000,00 – Rp5.000,00 = Rp195.000,00

Contoh penghitungan Upah Borongan: Mawan mengerjakan dekorasi sebuah rumah dengan upah borongan sebesar Rp700.000,00, pekerjaan diselesaikan dalam 2 hari.

Upah borongan sehari : Rp700.000,00 : 2 =                      Rp          350.000,00
Upah sehari diatas Rp300.000,00
Rp350.000,00 – Rp300.000,00                                          Rp            50.000,00

Upah borongan terutang pajak:
2 x Rp50.000,00                                                                 Rp          100.000,00
PPh Pasal 21 = 5% x Rp100.000,00 = Rp 5.000,00